Cerpen
Janda Suci
Suasana di desa Suka Makmur seakan mati lumpuh tak bernyawa. Yang terdengar hanyalah lantunan-lantunan kalam ilahi,bendera berwarna kuning bertaburan di mana –mana gubuk reyot yang menjadi singgah sana ibu dan anak, sebut saja Bu Idah dan Ridwan sang anak, menjadi ramai , orang-orang kampung berbondong-bondong segera mendatangi rumah Bu Idah untuk berta’ziyah. Kesedihan yang mendalam terus menyelimuti keluarga itu setelah di tinggal pergi oleh sang penopang hidup untuk selama-lamanya.
Tetapi dengan semangat juang yang tinggi bah pejuang besar Bu Idah bangkit dengan penuh gelora emosi untuk terus bekerja menjadi penopang hidup ia dan anaknya..
Teriknya sang surya tak mematahkan semangat Bu Idah yang kesehariannya berprofesi sebagai penyapu jalanan , ia rela di hina dan kadang makian menghampirinya, ia tak gentar ia hadapi semua itu dengan lapang dada. Ia tahu bahwa itulah resikonya bekerja sebagai penyapu jalanan . Bahkan bahaya lain sedang menantinya di pinggir terotoar .
Perofesi itu mulai ia kerjakan saat sang surya beranjak dari tidurnya yang lelap sampai sang surya membenamkan dirinya. Ia tahu bahwa profesinya sebagai penyapu jalanan sangat rendah tetapi ia sadar bahwa pekerjaan itu tak serendah para gepeng”gelandangan dan pengemis”.
Bu Idah melakukan profesi itu semata-mata hanya untuk sang buah hati yang sangat ia cintai melebihi cintanya ia kepada dirinya sendiri.
Waktu tak terasa berjalan begitu cepat, sebulan berlalu Bu Idah tak menjalan kan profesinya sebagai penyapu jalanan ,Sang Kholik pun berkehendak lain ia di fonis terjangkit kangker hati stadium akhir, tetapi ia tak tega melihat sang buah hati kelaparan, tak terasa sang surya menampakkan wujudnya yang besar nan indah Bu Idah beranjak dari istana gubuk reyotnya yang ia singgahi bersama sang buah hati tersayang , dengan tertatih-tatih ia kayuh gerobag penuh sampah menuju landasan berpolusi.
Teriknya sang surya tak menyilaukan hati Bu Idah untuk tetap bekerja, tetapi apa daya, wanita tua renta itu tak kuasa menahan sakitnya penyakit yang ia derita yang terus menggerogoti tubuh mungilnya. Ia tyerjatuh di terotoar kecil memanjang, mulutnya yang kerut mengeluarkan cairan merah pekat, Ridwan sang anak pun dating setelah mendapat kabar dari teman se profesi ibunya Ridwan langsung menghampiri sang bunda yang tergulai tak bernyawa, ia kucurkan butiran mutiara-mutiara dari dua pasang bola mata indahnyanya.
Ia merasakan nafas dan denyut nadi sang bunda tak bekerja,sontak ia berteriak histeris ratusan pasang bola mata melirik kearahnya tanpa memedulikannya, ia tangisi kematian sang bunda di terotoar sempit memanjang. Ia tak tahu harus kemana dan apa yang ia harus lakukan sepeninggal sang bunda , tetapi ia bertekad akan menjadi seseorang yang sukses seperti apa yang di harapkan ibunya kepada dirinya..Untuk membalas seluruh pengorbanan beliau sampai titik darah penghabisan.
Puisi
Fotosintesis
Tbuh mu besar
Setiap ranting kau bubuhi dedaunan
Asri menawan penuh gairah
Hijau sempurna penuh semangat
Kerutan di wajah mu
Membuat ku khawatir
Akar yang membentang
Memberi ku semangat untuk maju
Kau bubuhi ku
Dengan fotosintesis
Dalam denyut nadi ku
Tanpa harapan yang pasti
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ingat selalu pesan Q manjada wajadda .....
"Barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya"...^_^